Friday, 8 September 2017

Taqwa: Berjalan di Tanah Penuh Duri

Jangan cari seseorang di masa lalunya.. karena beberapa mungkin sudah tidak disana lagi.
Jangan anggap cinta kita lebih besar darinya.. padahal suatu saat cintanya bisa lebih besar dari kita.
Bukan..
Aku tidak sedang bicara cinta pada semesta dan isinya. Aku sedang bicara cinta kepada Rabb.
Cinta kepada sang Illaah.
Yakinkah kita sudah beriman?
Beberapa mungkin mengaku iman. Padahal iman bukan hanya di lisan.
Padahal iman bukan hanya kepada Allah.
Bukankah iman itu ada 6 jumlahnya?
Dan bukankah sebagian iman itu sangat nampak pada perilaku kita?
Mungkin kita beriman..
tapi apakah kita bertaqwa?
🍁🍁🍁

Taqwa adalah kewaspadaan, sebagaimana ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu tentang taqwa.
Jawab Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, “Apakah kamu tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?”
Jawab Umar radhiyallahu ‘anhu, “Ya.”
Ubay radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Lalu kamu berbuat apa?”
Jawab Umar radhiyallahu ‘anhu, “Aku sangat waspada dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.”
Ubay radhiyallahu ‘anhu berkata, “Itulah contoh taqwa.”
🍁🍁🍁

Ibnul Mu’tazz berkata tentang taqwa, “Tinggalkan semua dosa yang kecil maupun yang besar, itulah taqwa. Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di tanah yang penuh duri, selalu waspada dari apa yang dilihatnya. Jangan meremehkan dosa kecil, ingatlah gunung yang besar tersusun dari batu-batu yang kecil (kerikil).

No comments:

Post a Comment