Ada satu hal yang saya pelajari mengapa seseorang menunda pernikahan. Alasan biologis, takdir dari Allah sejak lahir: lemah syahwat. Alasan internal, karena belum cukupnya ilmu. Dan alasan eksternal/ lingkungan. Alasan lingkungan ini lah yang saya amati.
Bukankah manusia diciptakan dengan hawa nafsu? Termasuk nafsu dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Kebutuhan akan sosok pelengkap dari lawan jenis itu ada. Karena sejatinya laki-laki butuh kasih sayang dan perhatian perempuan, demikian perempuan butuh laki-laki sebagai sosok pendamping, pelindung ataupun sekedar meringankan pekerjaan yang berat.
Sementara, Islam mengatur batasan berinteraksi dg lawan jenis yg bukan mahram. Larangan bercampur-baur (ikhtilat), berdua-duaan (kholwah), memandang, dan menyentuh satu sama lain. Lebih dari itu? Saya tidak sanggup membayangkan dosa dan balasan siksa di sisi Allah.
Dengan batasan yang demikian ketatnya, lalu bagaimana manusia dapat melunasi syahwatnya terhadap lawan jenis?
Tenang, Islam punya solusinya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).
Dengan keimanan dan rasa takut dalam hatinya, seseorang bisa saja menahan pandangan matanya dari yang haram. Akan tetapi, dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa dengan menikah, seseorang akan lebih dapat menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Karena dia bisa menyalurkan syahwatnya kepada sesuatu yang halal, yaitu istrinya.
Source:
https://muslim.or.id/26590-menundukkan-pandangan-mata.html
Oke.. Dicopy?
Lalu bagaimana ceritanya dengan mereka yang menunda menikah? Ya bisa karena lemah syahwat, tidak tertarik pada lawan jenis. Atau memang karena belum siap dari segi ilmu dan kemampuan.
Atau justru karena interaksinya dengan lawan jenis yang demikian bebasnya tanpa batas, lupa dengan larangan-larangan Islam, sehingga tanpa sadar syahwat itu telah terbayarkan meski tanpa sebuah ikatan seperti let's say pacaran apalagi pernikahan. Yaaa jaman sekarang bilangnya sih temen aja. Tapi apa jamin interaksinya sesuai syari'at? Sehingga orang demikian ini merasa untuk melangkah ke sebuah jenjang pernikahan adalah hal yang berat. Padahal kehidupan setelah pernikahan itu manis pahitnya , susah senangnya, semua jadi pahala untuk mereka. Seeepanjang rumah tangga mereka.
Sebaliknya, bukankan lebih berat menjalankan keempat larangan tadi jika belum menikah? No ikhtilat, no kholwah, ga memandang, dan ga menyentuh? Lebih-lebih bagi perempuan, ga boleh menampakkan perhiasan, tebar pesona, bahkan sekedar melembutkan suara untuk mencari perhatian itu tidak boleh.
Jadi..gimana? Masih mau nunda nikah?
Saya sangat mengapresiasi orang2 yg berkeinginan untuk membahagiakan orang tua dulu baru menikah. Atau yang mau nikmatin hasil jerih payah sendiri dulu, dengan senang-senang, atau apapun. Ya...gapapa. Selama dalam jangka waktu tersebut mereka bisa menjaga aturan-aturan interaksi dengan lawan jenis tadi. Bisa? Ga masalah.
Namun jangan sampai ini menjadi seolah-olah setelah menikah kita tidak bisa membahagiakan orang tua. Padahal bahagia bukan hanya diukur dari harta dan nikmat dunia. Meskipun seseorang let's say kasarnya melarat, miskin harta di dunia, orang tua ngerasa ga bangga punya anak seperti ini waktu di dunia,
namun perhatikan keterangan Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang QS. 52:21 berikut ini.
Beliau berkata: “... Bahwa kaum mukminin, bila keturunan mereka mengikuti dalam keimanan (sebagaimana keimanan orang tua mereka), niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menempatkan anak-anak yang beriman ini ke derajat orang tua mereka, kendatipun amalan-amalan shalih mereka (anak-anak yang beriman) itu tidak sebanding dengan amalan para orang tuanya itu. Supaya pandangan para orang tua menjadi damai sejuk dengan kebersamaan anak-anaknya di tempat yang sama. Lantas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan mereka dalam kondisi terbaik. Anak yang kurang amalannya terangkat oleh orang tuanya yang sempurna amalannya. Hal ini tidak mengurangi sedikit pun amalan dan derajatnya, meskipun mereka berdua akhirnya berada di tempat yang sama."
Al-Jâmi li Ahkâmil-Qur`ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqîq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-‘Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M
Adapun keutamaan dan kemurahan yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para orang tua melalui doa anak-anaknya, tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,”
maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?”
Allah menjawab: “BERKAT ISTIGHFAR ANAKMU BAGI DIRIMU”
Tafsîrul-Qur`ânil-‘Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Dârul Hadîts Kairo 1426H-2005M.
Source:
https://almanhaj.or.id/3348-bersama-orang-tua-menuju-surga.html
Jadi... menikah dan berbakti pada orang tua ini adalah dua ibadah yang berbeda dan tidak ada sangkut pautnya satu sama lain. Sama kaya perintah berhijab dan memperbaiki akhlak. Ga nyambung. Tapi keduanya diperintahkan.
Nah kalo perintah menundukkan pandangan dan menikah? Ini baru berkesinambungan bukan? Karena ibadah yang satu meringankan ibadah yang lain sesuai hadits di atas tadi.
Saya memang belum menikah. Tapi saya sadar bahwa menikah itu suatu hal yang harus disegerakan melihat beratnya ibadah sebelum menikah.
Ingat, menikah itu sebuah ibadah. Ga mungkin kan ibadah malah ngebawa ke suatu keburukan?
Kedua.. jangan meremehkan mereka-mereka yang hendak menikah muda, karena dibalik itu mungkin ada dasar syar'i yang ingin mereka tunaikan. Ada ketakutan kepada Allah tabaaraka wa ta'aalaa.
Jadi... perhatikan lagi niat dan hakekat menikah yang sesungguhnya.
Saya sangat jauh dari kata berilmu karena banyaknya kekurangan dalam beribadah. Semua yang benar datang dari Allah.
Closing statement...
Allah kasih akal pikiran memang untuk berfikir... berfikir akan kebesaran Allah serta untuk membedakan hal yang haq dan yang bathil.
Namun, tundukkanlah akal pikiran itu ketika mendengar perintah Allah. Gausah tanya kenapa harus gini gitu. Masih inget kan siapa yang kasih kita akal pikiran?
Tentu, Allah kasih akal pikiran bukan untuk menentang perintahNya.
Disamping itu, kita beriman bahwa semua perintah Allah itu bukan untuk mengekang, melainkan untuk melindungi kita. Namun seringkali kita ga ngerti maksud Allah, karena memang akal pikiran kita sampai kapanpun ga akan mencapai ilmu Allah.
Yakinlah pada Al Hakiim. Dia lah Yang Maha Bijaksana.
Yuk sami'na wa atho'na. Kami dengar dan kami taat. Masuklah ke dalam Islam secara kaffah, menyeluruh. Jangan mengambil sebagian syari'at dan tidak melakukan yang lain.